ERP farmasi retail merupakan fondasi digital proses operasional. Lingkup kerja ERP di industri farmasi retail lahir dari kebutuhan nyata. Bayangkan satu cabang retail farmasi setiap harinya mengelola ratusan SKU obat dan masing-masing produk memiliki batch number, tanggal kadaluarsa, dan kewajiban pelaporan BPOM yang berbeda. Dunia farmasi retail bukan hanya sekadar urusan jual-beli obat. Di baliknya, ada labirin regulasi yang super sensitif karena taruhannya adalah nyawa pasien dan izin bisnis.
Konsekuensi yang begitu besar membuat peran ERP menjadi sangat krusial. ERPNext merupakan salah satu sistem ERP yang banyak digunakan ritel farmasi karena terkenal hemat biaya (free license or no subscribe fee). Untuk memahami bagaimana peran sistem ERP berperan bagi industri farmasi retail, mari kita bedah lingkup kerjanya satu per satu.
Lingkup Kerja ERP di Toko Farmasi Ritel
1. Manajemen Stok dan Proses Procurement
Manajemen stok dan proses procurement merupakan fondasi utama dalam memastikan kelancaran operasional farmasi ritel. Keduanya berperan sebagai penghubung antara perencanaan inventarisasi obat, dan ketersediaan stok obat. Misalnya pada aturan FEFO (First Expired, First Out), sistem ERP sebagai pusat database mampu mendeteksi batch mana yang harus dijual lebih dulu berdasarkan tanggal kadaluarsa obat. Jadi, keamanan konsumen terjamin. Pada kasus penarikan produk (product recall) dari produsen atau BPOM, ERP bertindak sebagai pelacak batch obat menandai obat telah didistribusikan kemana saja.
Dalam industri farmasi dan distribusi obat, proses pembelian tidak dapat dilakukan secara bebas. Terdapat ketentuan kuota, klasifikasi obat, serta perizinan khusus yang wajib dipatuhi, terutama untuk obat keras, narkotika, dan psikotropika. Di sinilah ERP berperan sebagai sistem kontrol dan kepatuhan.
Selain digunakan sebagai sistem kontrol perizinan, ERP juga berperan sebagai penjaga fluktuasi harga obat yang sulit diprediksi. Fluktuasi tersebut ditaklukan melalui modul buying. Modul buying dalam ERP berfungsi untuk membaca tren pembelian dengan mengkategorikan SKU mana yang paling laku (A-Class) dan mana yang lambat bergerak (C-Class), sehingga modal tidak mati di stok yang tidak laku. Pada versi ERP kustom, stok yang menipis dapat ditandai dengan notifikasi otomatis “Stok parasetamol menipis, segera lakukan restock”.
2. Integrasi Penjualan (POS)
Setiap transaksi di POS (Point of Sales) adalah hulu dari seluruh laporan keuangan Anda. Transaksi POS mulai bekerja ketika kasir menekan tombol bayar dan ERP secara otomatis memetakan transaksi tersebut ke akun-akun COA (pendapatan, pajak, kas dan COGS). Sinergi ini menjadi awal proses validasi data kasir menghasilkan laporan laba rugi dan arus kas secara terstruktur.
3.Patuh Regulasi dan Digitalisasi Dokumen
ERP Farmasi modern kini telah dirancang selaras dengan standar CPOB maupun CDOB. Pada part regulasi, ERP berperan sebagai pusat data transaksi harian, data inventaris, faktur pajak, sampai pusat dokumentasi surat pesanan (PO), semua tersimpan secara terstruktur. Jadi saat audit tiba, Anda cukup melakukan beberapa klik untuk tracking data yang diminta.
Sistem ERP Distributor Obat
Sistem ERP sudah terbukti handal dalam menyederhanakan proses operasional distribusi obat. ERP membuat proses operasional terjaga sehingga ruang pertumbuhan bisnis terbuka lebih optimal. Mulai diskusi modul ERP farmasi ritel.
Request Erasys free ERP






