Operasional pabrik pipa tidak lepas dari manajemen rantai pasok (Supply Chain Management). Supply chain management merupakan ilmu yang membahas bagaimana cara perusahaan merencanakan, mengendalikan, dan memantau aliran produk hingga produk sampai ke pelanggan. Karena semua prosesnya saling berkaitan, makanya proses rantai pasok harus flexibel untuk disintegrasi.
Di tengah rumitnya proses rantai pasok, Anda perlu tahu bahwa pabrik pipa di Kanada sudah lama menemukan cara agar proses produksi berjalan efisien tanpa mengorbankan kualitas produk. Perusahaan tersebut bernama Comco pipe & supply company, berlokasi di Kanada. Mereka memilih software ERP (frappe ERPNext) menjadi sistem operasional rantai pasok. Selain karena free license, pertimbangan apa yang membuat mereka beralih ke ERP?
Mari kita bedah bagaimana ERP menjadi inspirasi bagi pelaku industri manufaktur di Indonesia.
4 Modul ERP dalam Pabrik Pipa Kanada
Sebelum perusahaan Comco beralih ke ERP pabrik, mereka menggunakan aplikasi terpisah untuk mengerjakan 4 role utama manajemen supply chain. Namun sayang, bekerja dengan sistem terpisah justru menghambat pekerjaan mereka. Menyadari tantangan tersebut, perusahaan mengambil langkah strategis dengan mengintegrasikan ERP Manufaktur untuk mendigitalisasi progres di pabrik.
Berikut 4 Modul ERP yang dipakai pabrik pipa Kanada :
1.Inventory (Kontrol Persediaan)
Tugas modul inventory dalam pabrik berfokus pada apa yang ada di dalam stok (seperti kuantitas, pelacakan, peramalan). ERP pabrik membantu dalam mencatat berapa banyak bahan baku yang tersisa dan kapan harus memesan lagi sebelum kehabisan (reorder point). Kerugian karena menyetok bahan terlalu banyak juga dapat diminimalisir dengan ERP.
2. Warehouse (Manajemen Gudang)
Fokus modul warehouse sudah jelas, seputar produk disimpan dan dikelola. Jadi Inventory menyajikan data jumlahnya, sementara Warehouse menyajikan data lokasi produk dan bagaimana kondisinya.
Dalam pabrik pipa, project warehouse memberikan akses untuk mengatur tata letak penyimpanan produk (bin management), proses bongkar muat pipa, dan memantau pergerakan produk menggunakan barcode atau RFID.
3. Manufacturing (Proses QA)
Sebagai supplier dan distributor pipa, perusahaan Comco wajib memastikan produk lolos uji melalui assessment QA. Sehingga pada insiden pipa yang pecah, pabrik bisa tracing kapan pipa itu dibuat, bagaimana penyimpanannya, dan bahan baku dari supplier mana yang dipakai.
4. CRM (Kontrol Project)
Penjualan pipa besar bukan transaksi putus, melainkan sebuah Proyek. Modul ERP dalam pabrik pipa di Kanada bertugas sebagai sistem yang mengelola hubungan perusahaan dengan kontraktor dalam progres proyek. Misalnya, tugas menampung riwayat komunikasi dengan klien, mengelola penawaran harga (quotation), dan memantau tahapan pengiriman pipa sesuai termin proyek. Manajemen produksi juga menarik prediksi produksi dari data project, berdasarkan jadwalkan pengiriman sisa untuk bulan depan sesuai progres konstruksi klien.
Testimoni Owner Setelah Pakai ERP Terintegrasi
Derek Currah selaku General Manager Comco Pipe memberikan statement bahwa software ERP pabrik yang komprehensif adalah solusi strategis bagi mereka agar dapat bersaing dengan kompetitor. Erasys Consulting sebagai vendor ERPNext resmi di Indonesia, membuka program partnership bagi perusahaan Manufaktur, dan bisnis Trading Distribusi, melalui kemitraan singkat 1-3 bulan (sesuai kesepakatan). Klik disini untuk registrasi.






